Mari Mengenal Belitang Lebih Dekat

Posted on Updated on

belitang

BELITANG – Perkembangan Kota Belitang luar umum cepat serta jadi kota usaha dengan perubahan yang demikian cepat, kehadiran bank – bank nasional, Kampus/Sekolah Tinggi, tempat kuliner terkecuali di kenal juga sebagai lumbung padi di Sumatera Selatan, Belitang adalah salahsatu Kecamatan dari Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, diperkirakan jadi kota usaha nantinya.

Tetapi janganlah kaget, saat kita masuk ke Belitang, seperti kita ada di Jawa Tengah atau daerah jawa yang lain, lantaran bhs Jawa adalah bhs sehari-harinya orang-orang berkomunikasi terkecuali bhs Melayu-Palembang serta bhs Indonesia. Lantaran mereka yaitu beberapa orang transmigran.

Beberapa transmigrasi itu tiba di daerah Belitang lewat program kolonisasi massal yang dikerjakan pemerintah Belanda pada th. 1930-an. Serta umumnya orang Jawa yang betul-betul giat berusaha keras jadi berhasil, serta makmur hidupnya. Lantaran orang-orang Jawa sendiri mempunyai filosofi sepi ing pamrih, rame ing gawe, yakni mengutamakan utamanya kerja riil tanpa ada banyak mengeluh.

SEKILAS BELITANG

Belitang yaitu satu dari 16 kecamatan yang ada di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur (sesudah dikerjakan pemekaran/otonomi daerah). Lantaran saat sebelum ada otonomi daerah dahulu cuma ada OKU, tak ada yang namanya OKU Timur, OKU Selatan, dsb. Kecamatan Belitang yang beribu kota Gumawang berjarak seputar 360 km. dari ibu kota Sumatera Selatan, Palembang.

Sesaat Belitang sendiri terbagi dalam Belitang I, Belitang II serta Belitang III. Nyaris semua wilayahnya dipenuhi hamparan padi yang tumbuh subur serta hijau. Mata makin sejuk melihat dengan aliran air Irigasi Upper Komering yang sehari-sehari menyirami beberapa ribu hektare persawahan. Untuk Belitang sendiri penduduknya meraih 54. 000 KK. Serta dari sisi infrastruktur, Belitang telah mempunyai perbankan, pendidikan, pertanian. Bahkan juga untuk bidang pendidikan di Belitang telah ada sampai strata S2.

BUDAYA

Belitang adalah salah satu basis pelestarian budaya Jawa di Sumatera yang masih tetap kuat sampai saat ini. Beragam pertunjukan seni tradisional masih tetap selalu di gelar, seperti reog, jatilan, ketoprak, serta wayang kulit. Masalah wayang kulit, dari seputar 100 dalang Wayang Purwa yang ada di Sumsel, sejumlah 67 dalang tinggal di daerah Belitang. Sesaat untuk budaya suku asli sendiri telah nyaris tak terlampau menonjol. Sejauh yang penulis kenali, hingga sekarang ini budaya suku asli yang masih tetap ada hanya ” runcak-runcakan ” atau lebih popular dikenal dengan sebutan ” lempar selendang “. Tetapi dengan cara garis besar, budaya di Belitang lebih di menguasai oleh budaya beberapa orang pendatang (transmigrasi).

PERTANIAN

Belitang mempunyai sawah beririgasi tehnis cukup luas, yaitu kian lebih 26. 000 ha. Tidak heran bila Belitang adalah daerah persawahan beririgasi tehnis terluas di propinsi Sumatera Selatan. Dari hasil pertanian, Belitang sendiri membuahkan 1, 5 juta ton sampai 1, 8 juta ton gabah kering giling, dari dua juta ton yang dihasilkan oleh Sumsel tiap-tiap tahunnya. Terkecuali persawahan, Belitang juga banyak ladang.

Di ladang beberapa petani menamam, rambutan, durian, sayur mayur, singkong, kedelai serta lain sebagainya. Tetapi dengan cara geografis, sesungguhnya tanah di Belitang sebagian besar persawahan. Persawahan yang terdapat seputar 40 km. timur laut Martapura, ibu kota Ogan Komering Ulu Timur, itu makin berkembang serta produktif saat memperoleh limpahan irigasi tehnis dari Bendung Perjaya.

Menariknya, Bendungan Perjaya yang dibangun pada saat pemerintahan Soeharto itu hingga saat ini belum juga di resmikan. Dahulu ketika Megawati menjabat juga sebagai orang nomor satu di negeri ini merencanakan ingin resmikan, tetapi lantaran satu serta lain perihal, gagasan itu batal. Meskipun belum di resmikan, walau demikian untuk pengoperasionalan Bendungan Perjaya terus jalan selalu.

Orang-orang di Belitang lebih sukai menyebutkan daerah pertanian sesuai sama areal pembagian air dari Sungai Komering, dari mulai Bangunan Komering (BK) 1, BK 2, BK 3, s/d BK 35. Semasing BK adalah bangunan irigasi sekunder yang dilengkapi pintu-pintu pengatur. Di Belitang tiap-tiap desa rata-rata mempunyai kian lebih 10 mesin penggiling padi.

ebatas info bahwa duku Palembang yang populer dengan manisnya itu, yang banyak dijual di jalanan Jakarta sesungguhnya tidak dari Palembang (Kota). Walau demikian duku itu datang dari suatu desa yang bernama Rasuan, suatu desa yang tidak jauh dari Belitang. Desa tersebut di huni oleh masyarakat asli, suku Komering.

Demikian dengan juga durian, yang aslinya dari Rasuan. Mungkin saja agar enak saja menyebutnya, lantaran bila di sebut durian atau duku dari Rasuan, pasti orang akan tidak kenal serta bertanya-tanya, Rasuan, daerah mana itu?. Namun bila di sebut duku atau durian dari Palembang, pasti kebanyakan orang kenal. Bila lagi musim duku serta durian, dikampung saya harga nya tambah lebih murah dibanding disini. Untuk durian satu bijinya cuma di hargai seputar 3. 000-5. 000 perak, murah bukanlah. Cobalah banding dengan disini, satu biji dapat 10 ribu sampai 25 ribu

PEREKONOMIAN

Sebagian besar pekerjaan masyarakat asli Belitang yaitu bertani. Tetapi tidak sama dengan nasib beberapa petani di daerah lain di Sumsel yang biasanya pas-pasan, orang-orang petani di Belitang dapat disebut hidup berkecukupan sandang, pangan, serta papan. Kemakmuran itu tercermin dari rumah-rumah masyarakat yang rata-rata telah bertembok, lantai tegel, atau plester semen. Beberapa rumah juga telah dilengkapi antena parabola besar. Terasa susah diketemukan rumah dari bambu atau kayu yang reyot.

Belitang juga ramai lantaran di dukung akses jalan beraspal besar yang mulus, baik jalan menuju Martapura ataupun ke Palembang. Di Kecamatan Belitang I, sudah berdiri dealer mobil yang tunjukkan daya beli orang-orang seputar lumayan tinggi.

Dengan luasnya daerah pertanian yang ada di Belitang dan di tunjang irigasi yang sangatlah bagus, Belitang juga bakal jadi daerah yang makmur.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s